Dr. KH. Ngarifin Shidiq, M.Pd.I, dkk
Synopsis
SPESIFIKASI BUKU
Harga : Rp. 110.000,-
Ukuran : 14,8 x 21 cm
Jumlah Halaman : 334 Hal
Ketebalan Buku : 10 cm
ISBN : on proses
Deskripsi Buku : Buku Historiografi Ulama dan Pesantren memiliki kontribusi dan karya-karya para muballigh dan pejuang Islam di Wonosobo ini kemudian didiskripsikan dalam buku ini yang secara garis besar memberikan gambaran mengenai historiografi Islam dan pesantren di Wonosobo. Dalam penulisan buku ini, terdapat beberapa alasan kuat yang melandasinya. Pertama, latar belakang historis. Masyarakat Wonosobo merupakan masyarakat yang kental dengan nilai-nilai religius yang bersumber dari ajaran Islam yang diwariskan oleh para ulama pendahulu. Ini merupakan berkah dari para wali, ulama dan kyai yang telah hadir untuk syiar Islam dan menyiapkan fondasi historisnya dalam menyebarkan Islam di Wonosobo. Kedua, latar belakang ideologis. Tidak dapat dipungkiri bahwa para wali, ulama dan kyai di Wonosobo merupakan para tokoh dan figur yang telah meletakkan corak pemikiran Islam yang toleran (tasāmuh) dan moderat (tawāsuth) di Wonosobo. Dari sentuhan tangan mereka, lahirlah pesantren-pesantren dan tempat pendidikan Islam di berbagai wilayah di Wonosobo. Tradisi penyalinan dan penulisan kitab beraksara Arab Pegon atau Arab Jawi dan persebaran kader-kader kyai pada era berikutnya yang konsisten menyebarkan ajaran Islam wasāthiyah (moderat) merupakan sebuah fakta sejarah yang tidak dapat terbantahkan. Sehingga dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kita adalah para “santri ideologis” dari jaringan ulama dan kyai perintis pondok pesantren di Wonosobo. Ketiga, latar belakang geneologis. Secara formal, keberadan pesantren di Wonosobo tidak dapat terlepas dari transmisi keilmuan yang bersumber dari para ulama dahulu. Meskipun mata rantai dan jaringan sanad keilmuan ini memiliki jalur dan periode masing-masing, namun semuanya tersambung dan bersumber pada jejering para wali nukba, ulama dan kyai yang mendakwahkan Islam di Wonosobo. Mengingat pentingnya sanad keilmuan dalam tradisi Islam, maka kami perlu untuk merajut ulang benang transmisi keilmuan ini dengan memotret geneologi pesantren dan historiografi ulama yang telah menyebarkan Islam di Wonosobo. Hal ini agar kita mendapatkan pencerahan bahwa ajaran Islam yang selama ini kita amalkan terbukti berakar kuat dari sanad keilmuan yang benar yang menyambung dengan ulama sebelumnya, hingga sampai kepada Rasulullah Muhammad Saw. Keempat, latar belakang sosiologis. Umat Islam di Wonosobo dapat berdampingan dengan kelompok lain yang berbeda agama dan keyakinan. Hal ini tentu tidak terjadi secara tiba-tiba, namun pasti diawali oleh pondasi yang kokoh yang telah diwariskan oleh para pendahulu. Pun demikian, masyarakat Wonosobo dikenal sebagai masyarakat yang tingkat kepedulian sosialnya sangat tinggi. Ini semua merupakan “lumebering berkah” dari para ulama dan kyai yang telah mendirikan pesantren dan berdakwah di Wonosobo. Oleh karenanya, sebagai bentuk “tabarukan ilmiah,” dan wasīlah untuk memperkuat dan mempererat persaudaraan antar sesama, sudah sepantasnya kita mengais dan menuliskan kontribusi para ulama tersebut —yang semula masih terserak di berbagai tempat— dalam sebuah karya yang sekiranya dapat menggambarkan peranan dan warisan sosiologis para pendahulu.