Pendidikan-Kreatif Integratif: Paradigma Baru Inovasi Pesantren
Kembali ke Penerbitan dan Publikasi

Pendidikan-Kreatif Integratif: Paradigma Baru Inovasi Pesantren

02 Oct 2026 Nourma Khusna
cover.png

Judul: Pendidikan-Kreatif Integratif: Paradigma Baru Inovasi Pesantren

Penulis: M. Yusuf Amin Nugroho

Cetakan Pertama, Oktober, 2026

Tebal: xiv + 225 halaman; 15,5 × 23 cm

Pesantren memiliki sejarah panjang sebagai lembaga pendidikan Islam yang tumbuh dari masyarakat, memiliki tradisi keilmuan yang kuat, dan terbukti mampu bertahan dalam berbagai perubahan sosial. Namun, perubahan zaman juga menghadirkan tantangan baru. Pesantren perlu terus melakukan pembaruan secara selektif tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai dasarnya. Dari kesadaran tersebut, buku ini mencoba mendiskusikan pendidikan kreatif sebagai salah satu bentuk inovasi pendidikan Islam di pesantren.

Pengalaman pendidikan di Pesantren Kreatif Baitul Kilmah Yogyakarta menjadi titik pijak utama pembahasan buku ini. Praktik literasi, menulis, menerjemahkan, diskusi, kajian keislaman, seni, kewirausahaan, pemanfaatan teknologi, serta berbagai kegiatan kreatif lainnya menunjukkan bahwa pembelajaran pesantren dapat dikembangkan melampaui proses transmisi pengetahuan. Santri dapat ditempatkan sebagai subjek yang aktif membaca, berdiskusi, menghasilkan karya, memecahkan persoalan, dan mengembangkan potensi dirinya. Pendidikan dengan demikian tidak berhenti pada kemampuan mengetahui, tetapi bergerak menuju kemampuan berpikir, berkarya, beradaptasi, dan memberi manfaat.

Dari pembacaan dan refleksi terhadap praktik tersebut, buku ini menawarkan gagasan “pendidikan kreatif-integratif”. Konsep tersebut berupaya mempertemukan kreativitas dengan tradisi dan nilai-nilai pendidikan Islam, sekaligus mengurangi dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Pendidikan agama, ilmu pengetahuan, literasi, kewirausahaan, seni, teknologi, dan pengalaman kehidupan tidak seharusnya berdiri sebagai ruang-ruang yang terpisah. Semuanya dapat dipertemukan dalam proses pendidikan yang membantu santri memahami kehidupan secara lebih utuh.

Tentu, konsep yang ditawarkan dalam buku ini bukan sebuah formula final yang dapat diterapkan secara seragam pada seluruh pesantren. Setiap pesantren memiliki sejarah, karakteristik, tradisi, sumber daya, dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, pendidikan kreatif-integratif lebih tepat ditempatkan sebagai tawaran pemikiran yang terbuka untuk didiskusikan, dikritik, diuji, dan dikembangkan sesuai konteks masing-masing pesantren. Penulis berharap buku ini dapat menambah khazanah kajian pendidikan Islam sekaligus menjadi salah satu bahan refleksi bagi pengasuh pesantren, pendidik, mahasiswa, peneliti, dan pemerhati pendidikan dalam memikirkan masa depan pendidikan pesantren.