Integrated Sustainable Waste Management (ISWM) LP3M Lakukan Aksi Penanganan Sampah Wonosobo

Peningkatan jumlah sampah mengakibatkan semakin kompleksnya masalah untuk mengelola sampah. Sehingga kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Wonorejo sudah mengkhawatirkan karena kapasitasnya sudah melebihi. Jika melihat wilayah TPA Wonorejo yang berjarak 4,3 Km dari pusat Kota wonosobo yang beroperasi sejak tahun 1985 dengan luas areal 2,9 Ha dengan luas lahan terpakai sebesar 15.474 m2 ialah lahan landfill. Meskipun tempat pembuangan sampah dirancang hanya untuk menampung sampah, beberapa di antaranya akan mengalami dekomposisi seiring waktu. Proses dekomposisi di TPA akan menghasilkan metana, yaitu gas yang berbahaya dan mudah terbakar. Metana menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan. Untuk melakukan aksi penanganan sampah maka diperlukan database pengelolaan sampah. Kegiatan observasi lapangan untuk Menyusun database pengelolaan sampah tersebar di 15 Kecamatan wilayah Kabupaten Wonosobo diantaranya Kepil, Sapuran, Kalikajar, Kertek, Wonosobo, Wadaslintang, Kaliwiro, Kalibawang, Sukoharjo, Leksono, Selomerto, Watumalang, Mojotengah, Garung, Kejajar. Berdasarkan database pengelolaan sampah terdiri dari dua kegiatan yaitu pertama pembatasan timbulan sampah. Pembatasan timbulan sampah terdiri dari 1.161 sampel subjek penelitian yang telah mewakili 25% dari jumlah total populasi di Kabupaten Wonosobo. Pembatasan timbulan sampah menunjukan setiap lokasi  berbeda beda, tergantung pada faktor kali satuan. Kedua, pendauran ulang sampah di Kabupaten Wonosobo mencapai 86,19% artinya perlu ditingkatkan agar lebih optimal dan mencapai Misi Kabupaten Wonosobo menjadi zero waste tentunya masih jauh dari harapan jika tidak bergerak dan sadar bersama. Pihak terkait baik pemerintah daerah, lingkungan hidup, aksi lingkungan, akademisi, masyarakat serta pihak yang terlibat lainnya harus saling bersinergi satu sama lain. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *