KPM UNSIQ Berkarakter: Penguatan Soft Skills Berbasis Qur’anic Empowerment dan SDGs ke-53
Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Jawa Tengah melalui Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) menyelenggarakan kegiatan penguatan soft skills Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) berbasis Qur’anic Empowerment dan SDGs ke-53 pada 17–19 Juli 2026 di Aula Al A’la Kampus UNSIQ Wonosobo. Kegiatan bertajuk “KPM UNSIQ Berkarakter: Adaptif, Kolaboratif, Solutif, Tangguh, dan Berdampak” ini menjadi salah satu tahapan strategis sebelum mahasiswa diterjunkan ke lokasi KPM, sehingga mereka memiliki kesiapan nilai, sikap, dan keterampilan sosial yang memadai. Selama tiga hari, peserta mengikuti rangkaian sesi intensif yang memadukan penguatan perspektif keagamaan, pembelajaran sosial, dan praktik manajemen diri agar pengabdian yang dilakukan benar-benar berdaya guna bagi masyarakat.
Pada hari pertama, mahasiswa mendapat pengantar umum melalui sesi pembukaan dan orientasi kegiatan yang menegaskan bahwa KPM bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan proses belajar bersama masyarakat, membangun empati sosial, serta menguatkan karakter Qur’ani. Dilanjutkan dengan materi tentang nilai Aswaja-Qur’ani, etika, dan integritas mahasiswa, peserta diajak memahami KPM sebagai ruang khidmah yang menuntut sikap moderat, toleran, santun, menjaga harmoni sosial, serta menjunjung tinggi amanah dan kejujuran. Materi komunikasi sosial dan adaptasi lingkungan kemudian membekali mahasiswa dengan kemampuan membangun relasi yang sopan, empatik, dan kontekstual dengan perangkat desa, tokoh lokal, dan warga lintas usia. Pada sesi kerja tim, kepemimpinan, dan manajemen konflik, mahasiswa dilatih menyusun struktur peran dalam kelompok, mengelola dinamika internal, dan menyelesaikan konflik secara dewasa melalui klarifikasi dan musyawarah. Hari pertama ditutup dengan penguatan kemampuan problem solving dan pengambilan keputusan lapangan, serta manajemen diri, disiplin, dan resiliensi mahasiswa, agar mereka mampu merespons tantangan lapangan secara tenang dan solutif.
Hari kedua dan ketiga menjadi penguatan sekaligus pendalaman materi yang sama, dengan narasumber yang berbeda untuk memperkaya sudut pandang dan pengalaman lapangan. Melalui variasi narasumber lintas disiplin – dari bidang agama, pendidikan, teknik, hingga ilmu sosial – mahasiswa diajak melihat KPM sebagai ruang kolaborasi ilmu dan praktik, bukan hanya rutinitas program. Setiap sesi berfokus pada kemampuan mendengar aktif aspirasi masyarakat, mengelola waktu dan energi selama KPM, menjaga kedisiplinan, serta melakukan evaluasi keputusan yang diambil di lapangan. Dengan pola pengulangan materi selama tiga hari, peserta memperoleh kesempatan mengaitkan teori dengan simulasi kasus, berdiskusi, dan merefleksikan kesiapan pribadi maupun kesiapan kelompok sebelum terjun ke lokasi KPM.
LP3M menegaskan bahwa penguatan soft skills ini merupakan fondasi utama keberhasilan KPM UNSIQ ke-53. Ketua LP3M UNSIQ Jawa Tengah menyampaikan, “Melalui KPM berbasis Qur’anic Empowerment dan SDGs, kami ingin memastikan mahasiswa tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga berkarakter adaptif, kolaboratif, solutif, tangguh, dan berdampak nyata bagi masyarakat. Pengabdian yang mereka lakukan harus berangkat dari nilai-nilai Al-Qur’an, peka terhadap kebutuhan warga, serta mampu memperkuat ketahanan sosial di tingkat desa.” Rektor UNSIQ Jawa Tengah juga memberikan apresiasi atas komitmen mahasiswa dalam mengikuti rangkaian pelatihan. Dalam sambutannya, Rektor menegaskan, “KPM UNSIQ ke-53 kami arahkan selaras dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan agenda pembangunan berkelanjutan, sehingga setiap langkah pengabdian mahasiswa menjadi kontribusi konkret terhadap pencapaian SDGs di tingkat lokal maupun global. Kami berharap KPM ini melahirkan generasi muda yang mampu menjadi penggerak perubahan, menjaga tradisi baik, serta menghadirkan solusi atas persoalan masyarakat.”
Dengan selesainya kegiatan penguatan soft skills ini, mahasiswa UNSIQ Jawa Tengah diharapkan siap menjalankan amanah KPM dengan sikap dewasa, empatik, dan bertanggung jawab. Bekal nilai Aswaja-Qur’ani, kemampuan komunikasi sosial, kerja tim, problem solving, dan resiliensi pribadi menjadi modal penting agar program-program KPM yang dirancang bersama masyarakat benar-benar relevan, berkelanjutan, dan memberi dampak positif jangka panjang. KPM UNSIQ ke-53 bukan hanya menjadi ruang praktik pengabdian, tetapi juga laboratorium sosial bagi mahasiswa untuk menguji integritas, kepedulian, serta komitmen mereka sebagai calon intelektual muslim yang berpihak pada kemaslahatan umat dan pembangunan berkelanjutan.
